Tentang Haidh

Januari 22, 2008 at 1:16 am Tinggalkan komentar

Tentang Haidh

Assalamualaikum Wr. Wb.Terima kasih, ustad atas jawaban dari pertanyaan saya kemarin, dan sekarang saya mau bertanya lagi, semoga ustad tidak bosan menjawab pertanyaan saya, amien…teman saya mengalami haid sudah satu bulan secara terus menerus, padahal biasa haidnya hanya 6 hari, kemudian karena ia melakukan suntik kb kemudian haidnya menjadi tidak teratur dan lamanya sudah satu bulan, yang ingin saya tanyakan:apakah darah yang keluar masih disebut darah haid atau istihadah? apakah selama darah yang keluar otomatis tidak bisa shalat?bagaimana membedakan darah haid dengan darah istihadah?karena teman saya belum bisa membedakan apakah yang dia alami tersebut darah haid atau istihadah.Terima kasih,Wassalamualaikum Wr. Wb.

rika halimah di Depok

Jawaban :

Wa’alaikum Salam Wr. Wb. Sahabat

Hal-Hal Terpenting Dalam Masalah Haid, Nifas Dan Istihadlah

Terminologi Haid Umat bersepakat bahwa darah yang keluar dari kemaluan wanita ada tiga macam :
Haid : yang keluar dalam keadaan sehat,

Nifas : yang keluar setelah melahirkan,
Istihadlah : yang keluar tidak pada hari haid, dan nifas, yakni dalam keadaan sakit (darah penyakit).
Kata al-mahidl dalam ayat : yas`alunaka an al-mahidl, adalah darah haid, begitu juga dalam ayat : fa`tazilu al-nisa`a fi al-mahidl.

Warna Darah Haid dan Sifat-Sifatnya Darah haid sebagaimana diketahui hitam, memiliki bau yang khas. Sedangkan warna-warna selain itu, menurut hadits Ummu Athiyyah, bukanlah darah haid. Menurut Syafi`i warna darah haid ada lima : hitam, merah, kemerahan (pirang), kekuningan, dan keruh yakni antara kuning dan putih. Menurut Hanafi enam macam : hitam, merah, kuning, keruh, hijau, dan turbiyah (seperti debu).

Sifatnya : pekat, panas keluar perlahan-lahan, tidak deras dan terus-menerus bau menyengat terkadang menimbulkan sakit
Awal Mula Haid Pada Wanita
Aisyah meriwayatkan, ketika ia pergi haji bersama Rosulullah, ia mendapat haid, lalu ia pun menagis. Rasulullah berkata : itu adalah perkara yang digariskan Alloh pada anak perempuan Adam, lakukanlah semua manasik kecuali tawaf.
Menurut riwayat Abdullah bin Mas`ud dan Aisyah, wanita Bani Isra`il adalah umat manusia pertama yang dikenai haid. Namun para ulama mengatakan bahwa haid ada sejak turunnya Ummu Hawa ke bumi.

Umur Perempuan yang Haid

Jumhur ulama berpendapat bahwa sembilan tahun adalah umur terkecil wanita mendapat haid, karena hal ini dikembalikan pada fenomena yang ada. Dan fenomena mengatakan belum ada wanita mendapat haid dibawah sembilan tahun. Dalam kaidah fiqh, sesuatu yang tidak ada ketentuanya dalam sayariat dikembalikan pada asalnya. Tapi tidak dengan ukuran kejadian yang jarang terjadi, misal wanita haid dibawah sembilan tahun, ada, tapi jarang terjadi.

Keluar Darah Sebelum berumur Sembilan Tahun
Jika hal ini terjadi, dan tidak melebihi batas antara masa suci dan haid yakni 16 harimaka itu termasuk haid, jika melebihi bukanlah haid. Kalau misalnya, beberapa hari menjelang sembilan tahun ia haid, tidak dianggap haidmenurut Syafi`i, dan sebagian lagi pada saat berumur sembilan tahun, yang kedua dianggap haid.

Masa Monopause

Menurut Syafi`iyyah pada saat umur 62 tahun, ditambahkan : tak ada batas maksimalnya, yang disandarkan adalah yang pertama.
Menurut Hanafiyyah pada umur 55 sampai 60 tahun. Sedangkan Malikiyah, 70 tahun.
Yang bisa dijadikan pegangan adalah madzhab Imam Ahmad, dengan riwayat dari A`isyah : Jika seorang wanita berumur 50 tahun, ia telah keluar dari batas haid.

Masa Haid
Masa haid sedikitnya sehari semalam, karena syari`at hanya mengatur hukumnya, tidak menentukan masanya, dan hal ini bisa diketahui melalui kebiasaan.

Sebagian besar masa haid enam sampai tujuh hari.
Masa haid paling lama lima belas hari, meskipun darahnya tidak keluar terus-menerus, tapi mencapai sehari semalam. Menurut Hanabilah tujuh belas hari.

Ketidakteraturan Haid (haid melebihi/kurang dari kebiasaan).
Menurut Syafi`iyyah kalau misalnya masa haid kurang atau melebihi kebisaan yang ada, yakni kurang dari sehari semalam, atau melebihi 15 hari, maka ini termasuk istihadlah. Ibadah tetap wajib baginya.
Sebagian ulama berpendapat tidak ada ketentuan, tergantung pada kebiasaan wanita itu sendiri.

Masa Suci antara Dua Masa Haid
Jumhur Ulama berpendapat bahwa masa suci antara dua masa haid paling sedikit lima belas hari. Mayoritas yang terjadi 23 atau 24 hari. Tidak ada batas paling lama, karena ada wanita yang haid setahun sekali, ada yang hanya satu kali seumur hidup.

Hukum Darah yang Keluar dari Wanita Hamil

Para fuqaha berselisih dalam hal ini.
Menurut Malik, al-Laits, Syafi`i darah tersebut adalah haid. Hal itu bisa terjadi, kemungkinan karena lemahnya janin, maka ia makan dari darah haid tadi, ketika janin lahir keluarlah darah tersebut.
Sedangkan Abu Hanifah, Ahmad, Awza`iy dll, itu bukan darah haid. Karena wanita hamil tidak haid, seperti riwayat A`isyah. Ketika seorang wanita hamil, rahimnya tertutup, maka dari itu tidak mungkin ia haid. karena darah haid, jika keluar dari rahim.
Dan penelitian medis telah membuktikan hal itu.

Suci pada Waktu Haid

Ulama bersepakat bahwa darah haid tidak harus keluar terus-menerus. Tapi mereka berselisih dalam hal batas antara suci dan haidnya.

Jika darah keluar sehari, kemudian sehari lagi tidak, lalu ada lagi, disini ada dua pendapat :
Pertama : Menurut Hanafiyah, masa bersih itu termasuk masa haid. Sedangkan Syafi`iyyah, dianggap haid dengan tiga syarat :
Pertama, Masa bersih diantara dua haid, yaitu sehari keluar, lalu bersih, lalu keluar lagi.
Kedua, Tidak melebihi lima belas hari, darah yang keluar tidak kurang dari sehari semalam.
Ketiga, Ketika bersih berarti tidak haid, dan ketika darah keluar berati haid. maka ketika bersih, kewajiban ibadah tetap. Sedangkan pertama, ia tidak wajib melakukan sholat atau shaum.

Keluar Darah Sebelum Melahirkan

Ulama bersepakat bahwa darah yang keluar setelah melahirkan adalah darah nifas. Namun mereka berselisih jika darah keluar pada saat sebelum melahirkan, dua atau tiga hari secara terus menerus dengan tidak beraturan.
Syafii : itu bukan nifas
Hanabilah : itu adalah nifas, dengan syarat terjadi beberapa hari menjelang persalinan, dan tidak beraturan.

Darah yang Keluar Saat Melahirkan

Syafi`iyah dan sebagian Ahnaf : itu bukan haid, itu terjadi karena pengaruh kehamilan, dan bukan nifas, karena nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan.

Tanda Setelah Selesai Masa Haid (Terhentinya Haid)
Pendapat Imam Nawawi tanda terhentinya haid dan adanya suci yaitu terhentinya keluarnya darah dan keluarnya warna kuning dan keruh (yaitu antara putih dan kuning), apabila terhenti maka ia telah suci, baik setelah itu keluar cairan warna putih atau tidak.

Pemakaian Obat agar Haid atau Mencegahnya

Tidak ada masalah dalam pemakaian obat untuk tujuan-tujuan diatas, selama tidak ada bahaya dalam pemakaiannya, dan ada yang mensyaratkan dengan izin suami, jika obat tersebut melebihi nafkah yang diberikan oleh suami, apalagi jika obat tersebut seperti alat kontrasepsi yang mencegah kehamilan.
Dalam hal ibadah, karena ini termasuk haid, maka ia tidak boleh sholat dan shaum, jika melebihi lima belas hari hukumnya seperti istihadlah.

Darah Kekuningan dan Keruh

Jumhur ulama mengatakan, jika darah seperti itu keluar di hari-hari haid maka termasuk dalam hukum haid. jika tidak, maka bukan haid.

Hukum-Hukum yang Berhubungan dengan Haid

Dalam Al-Asybah wa al-Nadla`ir, hukum-hukum yang berhubungan dengan haid ada dua puluh larangan (haram dilakukan):
  • Sholat
  • Sujud tilawah dan sujud syukur
  • Towaf
  • Shaum
  • I`tikaf
  • Masuk masjid, kalau takut akan membuatnya najis.
  • Membaca al-Qur`an
  • Menyentuhnya (al-Quran)
  • Menulisnya (al-Quran)
  • Dalam Muhadzdzab ditambahkan, thaharah, dan menghadiri majelis.
  • Tiga berikutnya larangan untuk suami :
  • Hubungan suami-istri
  • Tholak
  • Menyentuh antara pusar dan lutut
Hukum Toharah dengan Niat Menghilangkan Hadats
Haram, jika ia berniat demikian agar bisa beribadah, apalagi jika ia tahu itu tidak shah, berarti ia mempermainkan agama.
Kalau berniat membersihkan kotoran, bukan bersuci, tidak apa-apa.

Sholat

Para ulama bersepakat bahwa sholat baginya haram, dan gugur kewajibannya.

Hukum Mengqadla Sholat

Wanita haid tidak perlu menqadla` sholatnya, menurut empat imam.

Toharah Wanita Haid di Akhir Waktu

Tidak ada perselisihan antara para ulama, bahwa jika wanita haid telah bersuci, dan masih ada waktu untuk sholat, meskipun satu rakaat, maka ia wajib untuk sholat.

Toryan (secara tiba-tiba) Datang Haid setelah Masuk Waktu Sholat
Di wajibkan qodho sholat bagi wanita yang haid secara tiba-tiba dan ia belum melaksanakan sholat, padahal sudah masuk waktu sholat.

Entry filed under: Fiqih. Tags: .

Salat Fajar, Qobliyah Subuh, Rawatib dan Tarawih Qadha Sholat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Januari 2008
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: