Uswah
| Artikel Islami |
| 30 Januari 2003 – 13:28 |
| Ber-uswah pada Kepemimpinan Rosululloh SAW |
| Oleh : Drs. Harun Musa |
| Selama 63 tahun hidup Rosululloh Muhammad SAW, sungguh kita telah diberikan satu deskripsi profil manusia yang penuh dengan kesempurnaan. Tersaji dengan gamblang pada kita semua, perilaku dan sikap beliau untuk menjadi uswah bagi kita agar kita menjadi insan mulia, hambah Alloh SWT yang paling bertaqwa.
Saat kita menelaah fragmentasi kehidupan beliau yang tertulis dalam siroh, ada pelajaran bagi kita tentang karakteristik dan sikap beliau sebagai pemimpin, yang lekat dalam diri beliau integrasi multi kesempurnaan. Paduan kesempurnaan antara qiyadah fikriyyah dan qiyadah sakhshiyyah. Berikut ini sekelumit uraian pelajaran yang mampu kami ungkapkan tentang karakteristik kepemimpinan beliau yang hendaknya kita jadikan uswah dalam kita memimpin, memimpin siapa saja dimana saja. A. Kejujuran yang terbukti dan teruji Tatkala pembangunan Ka?bah sampai pada bagian Hajar Aswad, orang-orang Quraisy saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula. Perselisihan itu terus berlanjut selama empat atau lima hari. Perselisihan ini semakin meruncing bahkan hampir saja menjurus pada pertumpahan darah di tanah suci. Adalah Abu Ummayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumy tampil dan menawarkan jalan keluar dengan menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini. Dengan kehendak Alloh, orang yang lewat pintu tersebut adalah Rosululloh Muhammad SAW. Tatkala mengetahui hal ini, mereka berbisik-bisik, ?Inilah Al-Amin. Kami ridlo kepadanya. Inilah dia Muhammad?. (Siroh Ibnu Hisyam XII/192)
? B. Cakap dan Cerdas Komponen kedua yang tak kalah pentingnya adalah kehandalan dan kecakapan kita dalam melaksanakan tugas. Walaupun sangat dikenal dan teruji kejujurannya tapi kalau dalam melaksanakan tugas sering berbuat lalai dan kesalahan maka hal ini pun akan merontokkan kredibilitas. Sebelum Perang Badar Al-Kubro, suatu sore, Rosululloh SAW mengirim mata-mata untuk mengetahui data tentang musuh. Kunci utamanya adalah secara sadar kita harus selalu belajar, melatih diri, mengembangkan kemampuan, wawasan serta keterampilan kita secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga selalu memiliki kesiapan yang memadai untuk melaksanakan tugas.
Segala sesuatu yang ada selalu berubah, di dunia ini tidak ada sesuatu apapun yang tidak berubah. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu siapa pun yang tidak menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan maka dia akan tergilas kalah oleh perubahan tersebut. Maka jelaslah sudah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah bahwa orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi karena berarti tak ada kemajuan dan tetinggal oleh perubahan, orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dianggap orang yang celaka, karena berarti akan tertinggal jauh dan sulit mengejar, satu-satunya pilihan bagi orang yangberuntung adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, berarti harus ada penambahan sesuatu yang bermanfaat, inilah sikap perubahan yang diharapkan selalu terjadi pada seorang muslim, sehingga tidak akan pernah tertinggal, dia selalu antisipatif terhadap perubahan, dan selalu siap menyikapi perubahan. Berikut ini beberapa anjuran agar kita dapat selalu mengembangkan kemanpuan kreatif kita:
Mudah-mudahan kegigihan diri kita, menjaga agar karir hidup ini menjadi orang bersih, terbuka, jujur terpercaya, kita lakukan dengan tulus karena Allah semata. Selamat berjuang saudaraku sekalian, cukuplah Allah sebagai satu-satunya tujuan, pelindung, tumpuan harapan dan satu-satunya penolong kita semua. D. Tegas tapi Rendah Hati. Setelah paman beliau, Abu Tholib, didatangi serta diiancam para pembesar Quraisy, berkatalah ia, ? Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaumku telah mendatangiku, lalu mereka berkata begini dan begitu kepadaku. Maka hentikanlah demi diriku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membenaniku sesuatu di luar kesanggupanku.? Rosululloh SAW mengira pamannya akan menelantarkannya dan sudah tidak mau lagi mendukungnya. Maka beliau bersabda, ?Wahai pamanku, demi Alloh, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Alloh memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya?. (Siroh Ibnu Hisyam I/226). Seorang pemimpin dituntut untuk bersikap tegas, terutama saat berpihak pada kebenaran. Namun tidak boleh takabur, ia harus tetap rendah hati. E. Pemberani tapi Bersahaja. Wallahu a’lam bishshawab. |
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed