HUKUM JUAL-BELI SECARA KREDIT

Januari 24, 2008 at 12:31 am Tinggalkan komentar

Penulis: Herlini Amran
Bu Herlini yang dimuliakan Allah, saya mempunyai usaha jual beli barang keperluan rumah tangga secara kredit, seperti kulkas, blender, dan sebagainya. Usaha ini sudah berjalan 2 tahun dan lancar-lancar saja.

Yang ingin saya tanyakan, bagaimana jual beli barang secara kredit? Dalam syariā€™at, apakah ada aturan berapa keuntungan yang seharusnya diambil untuk pembelian secara cash maupun kredit? Dan terakhir, bagaimana Islam mengatur masalah jual beli?
Felya, Jakarta

Jawab :
Bu Felya yang dirahmati Allah, Islam memang telah mengatur masalah jual beli, perdagangan, perniagaan, kontrak transaksi, begitu juga dengan kredit. Untuk istilah kredit dikenal dengan baiā€™ bi at-taqshid atau baiā€™ bi atstsaman ā€˜ajil artinya menjual barang dengan harga yang berbeda antara tunai dengan tenggang waktu. Di dalam Islam hal ini tidaklah dilarang. Seorang muslim diperbolehkan membeli/menjual secara kontan dan boleh juga membeli/menjual dengan menangguhkan pembayaran hingga batas waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan. Bahkan Rasulullah saw sendiri pernah membeli makanan dari seorang yahudi secara tempo untuk nafkah keluarganya dan beliau memberikan baju besinya sebagai jaminan.

Memang tidak terdapat nash yang
mengharamkan bentuk jual beli kredit seperti ini, maka jumhur ulama memperbolehkannya. Namun ada batasan yang harus di jaga agar tidak jatuh kepada keharaman, yaitu untuk harga harus disepakati di awal transaksi, walaupun pelunasannya dapat dilakukan kemudian (karena kredit). Bila terjadi keterlambatan dalam pelunasan (pembayarannya) maka tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bunga (bertambah harganya karena keterlambatan pembayaran). Kedua belah pihak juga telah menyepakati pembayaran harga cicilan dan tempo pembayarannya dibatasi.

Mengenai keuntungan, pada dasarnya tidak ada batasan sebab asas jual beli adalah ā€˜an taradhin (saling ridho) antara kedua belah pihak. Biasanya harga akan berjalan menurut sunnatullah sesuai hukum permintaan dan penawaran. Berapapun keuntungannya masih dibenarkan selama tidak ada unsur kezaliman, misalnya karena banyaknya permintaan dan barang yang tersedia sedikit sehingga harganya menjadi mahal. Yang tidak dibenarkan adalah terdapat ketidak wajaran seperti menimbun barang dan mempermainkan harga. Contohnya, pemilik barang tidak mau menjual barang dagangannya, pada hal masyarakat sangat membutuhkannya. Atau ia simpan dulu sehingga kemudian harga menjadi naik dan ia mendapatkan keuntungan dengan cara yang zalim (menahan/menyimpan barang).

Keuntungan seperti inilah yang tidak dibenarkan.
Jual beli memiliki aturan main di dalam Islam, bahkan Allah telah menegaskan bahwa Dia menghalalkannya dan mengharamkan riba (QS. Al-Baqarah : 275), dilakukan dengan suka sama suka (ā€˜an taradhin ) QS. An-Nisaā€™ : 29.

Bentuk jual beli yang telah ditentukan (sebagaimana yang telah dikemukakan oleh DR. Yusuf Qordhowi dalam buku ā€˜Halal dan Haramā€™nya), antara lain :

1-Jual beli barang yang membawa kepada kemaksiatan adalah terlarang (haram), misalnya menjual babi, khamar, makanan dan minuman yang diharamkan secara umum, berhala, salib, patung dan sebagainya. Sabda Rasulullah saw dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud : Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu juga mengharamkan harganya. Artinya sesuatu yang telah diharamkan maka tidak boleh ditukar (jual beli) dengan yang lainnya.

2-Transaksi jual beli yang tersamar dan belum jelas hasilnya/barangnya atau barang tersebut tidak dapat diserahkan kepada pembelinya, seperti menjual buah-buahan yang masih di pohon, menjual burung di udara, semuanya itu di haramkan apabila ada unsur penipuan.

3-Islam memberikan kebebasan jual beli pada setiap orang , maka persaingan yang sehat juga dibenarkan. Islam melarang (mengharamkan) sifat egois yang mendorong pedagang untuk menimbun dan mengeksploitasi barang yang dibutuhkan rakyat, sehingga dirinya mendapat keuntungan berlipat ganda karena harga barang menjadi naik.

4-Jual beli yang diberantas Islam adalah membeli/menjual sesuatu yang diketahui sebagai hasil jarahan, curian atau yang diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan. Sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi : Barang siapa membeli barang curian sedangkan dia tahu bahwa itu hasil curian, maka sesungguhnya dia telah bersekutu dalam dosa dan aibnya.

Untuk lebih jelasnya silahkan lihat bab Muamalah dalam buku fiqih sunnah dan buku fiqih lainnya.

Kerjasama Bisnis
Saya mempunyai rencana untuk membuka usaha di rumah. Karena terbentur pada masalah modal, saya bekerjasama dengan beberapa teman. Bagaimana aturan dalam Islam sehubungan dengan kerja sama dengan orang lain dalam usaha? Dengan modal bersama seperti itu, bagaimana pembagian keuntungan dan kerugian di antara kami?
Sebenarnya saya agak trauma bekerjasama seperti ini. Dulu saya pernah buka usaha bersama teman, dan mengalami kerugian yang mengakibatkan saya dan rekan saya itu terlibat hutang yang cukup besar. Bagaimana mengatasi masalah saya ini ya Bu, soalnya teman saya itu seperti berlepas diri dari hutang-hutang yang ada. Akibatnya saya sendiri yang menanggung hutang tersebut sampai sekarang.
Ghina, Jakarta

Jawab :
Saudari Ghina yang sholihah, prinsip kerjasama dengan orang lain tidak terlepas dari nilai-nilai moral dalam bermualamalah antar manusia yang telah diatur Islam. Hubungan kerja sama tersebut tidak terlepas dari kualitas moral yang tinggi atas ketaatan pada Allah. Sehingga kerja sama dalam usaha tersebut bersifat penuh kejujuran dan Iā€™tikad baik dan ditegakkan pada landasan yang adil dan cara yang benar.
Dalam istilah fiqih bentuk kerjasama antara kedua belah pihak dengan sama-sama menanggung keuntungan dan kerugian dikenal dengan mudharabah (kongsi) atau qiradh (memberikan modal kepada orang lain). Dan porsentase keuntungan dan kerugian yang harus ditanggung haruslah sesuai dengan kesepakatan mereka.
Jadi kerja sama dalam usaha ini merupakan kerja sama antara dua orang yang berserikat (syirkah). Bila untung, mereka berbagi keuntungan sebagaimana yang telah mereka syaratkan di awal kerja sama tersebut. Bila rugi maka diambil dari keuntungan yang ada. Jika kerugian itu sampai menghabiskan keuntungan yang ada, maka kerugian itu diambil dari modal menurut besar kecilnya kerugian. Inilah aturan Islam dalam bermuamalah.

Adanya ketentuan keuntungan untuk pemilik modal, tidak lebih dan tidak kurang sekalipun keuntungan itu berganda atau kerugian berlipat, maka cara seperti ini tidaklah sesuai dengan prinsip Islam. Seperti yang Ghina alami, ketika terjadi kerugian, hanya salah satu pihak yang menanggungnya. Oleh karenanya, sebelum bekerja sama buatlah perjanjian terlebih dahulu.

Disepakati berapa besar bagi hasil yang diinginkan atas dasar ridho. Keuntungan dibagi bersama dan kerugian juga ditanggung besama. Inilah prinsip keadilan di dalam ekonomi Islam. Mudah-mudahan setelah menerapkan usaha bagi hasil seperti ini, tidak terjadi lagi kerugian sepihak, dan semoga usaha anda menjadi barokah karena Allah bersama orang yang berserikat, sebagaimana hadits riwayat Abu Daud : Sesungguhnya Allah taā€™ala berfirman : Aku bersama orang yang berkongsi (berserikat) selama seorang di antara mereka tidak berkianat kepada yang lain, dan apabila telah berkhianat yang satu terhadap yang lain, maka Aku akan keluar dari mereka.

Entry filed under: muamalah. Tags: .

KISAH TSA’LABAH BIN HATHIB AL-ANSHARIY Jual Beli Dalam Pandangan Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Januari 2008
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tulisan Teratas

Pos-pos Terakhir


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: